TSS Selat Sunda Dukung Pelabuhan Tanjung Priok Sebagai Internasional Hub Port

  • Whatsapp

Ket.gbr: Fasilitas TPK Koja (photo.dok : maritimindonesia.co)

Maritim Indonesia – Kementerian Perhubungan terus melakukan persiapan secara marathon menjelang diberlakukannya bagan pemisah alur laut atau Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat Lombok yang bakal diimplementasikan pada 1 Juli 2020.

Read More

Bahkan, pada Selasa (23/6) di Kantor Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok dilaksanakan kegiatan Table Top Exercise terkait hal itu yang melibatkan berbagai stakeholders.

Menteri Perhubungan Budi Karya
Sumadi menyatakan bahwa capaian ini merupakan catatan sejarah baru bagi Indonesia yang menjadi Negara Kepulauan pertama di dunia yang memiliki Bagan Pemisahan Alur Laut atau TSS di Alur Laut Kepulauan, yaitu di Selat Sunda dan Selat Lombok.

Keberhasilan tersebut merupakan kebanggaan Indonesia khususnya Kementerian Perhubungan sebagai Maritime Administration di IMO yang telah memperjuangkan usulan TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok selama lebih dari dua tahun di kancah maritim dunia.

Dalam kegiatan table top exercise tersebut, berbagai instansi terkait, seperti Kementerian Perhubungan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Bakamla, Basarnas, Badan Intelijen Nasional (BIN), POLAIRUD, dan instansi lain bersama-sama melakukan skenario komunikasi dan pergerakan kapal negara dalam mekanisme proses perencanaan operasi patroli dan penegakan hukum di bidang keselamatan berlalu lintas di TSS Selat Sunda.

“Tujuannya yakni agar operasi patroli dan penegakan hukum dapat berjalan sesuai prosedur yang telah ditetapkan,” ujar Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ahmad.

Dia menyatakan, TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok resmi diberlakukan melalui pengesahan oleh IMO yang berada di dalam ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) I dan II.

Selat Sunda terletak di jalur lintas kapal yang dikategorikan sebagai ALKI I dengan lalu lintas yang sangat padat dan cukup ramai di wilayah tersebut serta bebasnya kapal-kapal asing yang melintas.

Dia menegaskan, pemberlakuan TSS Selat Sunda merupakan upaya pemerintah untuk memberikan keselamatan lalu lintas pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim.

Sementara itu, Direktur Kenavigasian Hengki Angkasawan mengungkapkan bahwa pihaknya akan menyiapkan aspek kenavigasiannya seperti kesiapan dalam sarana dan prasarana Vessel Traffic Service (VTS), Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) VTS serta penyiapan Navigation Guideline.

Hengki berharap dapat terjalin koordinasi dan komunikasi secara sistematis dan terpadu antar instansi terkait sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

“Sebab kita tidak dapat bekerja sendirian dalam menjaga keselamatan lalu lintas pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim di perairan kita,” ucapnya.

Hub Port Tanjung Priok

Sejumlah kalangan juga mengapresiasi langkah pemerintah terkait implementasi TSS Selat Sunda dan Selat Lombok.

Khususnya terhadap peran TSS Selat Sunda, justru diharapkan oleh pelaku bisnis kepelabuhan dapat dijadikan momentum untuk mendorong pelabuhan Tanjung Priok sebagai Internasional Hub Port, dengan memanfaatkan Selat Sunda sebagai jalur perdagangan ke Selatan dan Eropa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dari berbagai sumber, selama ini pengiriman perdagangan didominasi melalui Selat Malaka. Sedangkan pemanfaatan Selat Sunda belum maksimal untuk mendukung perdagangan dunia sehingga nilai tambah terhadap ekonomi nasional tidak maksimal. Intinya Selat Sunda bisa menjadi alternatif Selat Malaka dalam aktivitas perdagangan global.

Dengan mewujudkan Internasional Hub Port, setidaknya terdapat tiga manfaat yakni mengurangi kompleksitas jasa pengiriman, memungkinkan kapal-kapal besar meningkatkan kapasitas muatan, serta waktu transit yang cepat dan frekwensi pengiriman tinggi.

Sebagaimana diketahui, pada kawasan pelabuhan Tanjung Priok telah tersedia fasilitas terminal peti kemas yang mampu melayani kegiatan peti kemas ekspor impor.

Fasilitas itu yakni; Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan produktifitas (througput) pada tahun 2019 mencapai 2.085.691 twentyfoot equivalent units (TEUS), TPK Koja 914.310 TEUs, New Priok Container Terminal-One (NPCT-1) 1.116.859 TEUs, dan IPC TPK (termasuk MAL) 647.034 TEUs.

Adapun JICT memiliki panjang dermaga 1.701 meter, TPK Koja 650 meter, NPCT-1 sepanjang 850 meter, dan IPC TPK 1.268 meter.

Dengan fasilitas eksisting yang dimiliki Pelabuhan Tanjung Priok itu, rasanya tidak berlebihan perlu disiapkan skenario rute pelayaran peti kemas melalui Selat Sunda dalam mendukung perdagangan global mewujudkan International Hub Port yang menghubungkan langsung pelabuhan di Indonesia dengan pelabuhan-pelabuhan diseluruh dunia.(ire djafar)

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published.