Namarin Sebutkan Kendala Penerapan NLE di 10 Pelabuhan Setelah Batam

  • Whatsapp

Ket gbr: Direktur Eksekutif Namarin Siswanto Rusdi: penerapan digitalisasi yang diterapkan akan mubazir jika tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai. Foto: instagram.

Maritim Indonesia – The National Maritime Institute (Namarin) membeberkan dua persoalan yang harus diperhatikan pemerintah dalam pengimplementasian National Logistic System (NLE) di 10 pelabuhan setelah Batam.

Read More

Direktur Eksekutif Namarin Siswanto Rusdi mengatakan bahwa persoalan pertama yang harus diperhatikan pemerintah adalah terkait infrastruktur teknologi informatika (TI) dan budaya digitalisasi di daerah yang menjadi target penerapan NLE.

Dia mencontohkan, kesiapan jaringan internet di kawasan yang akan menerapkan NLE harus baik, dan pemerintah perlu mengukur seberapa tinggi penggunaan layanan digital oleh masyarakat setempat.

“Yang jadi masalah adalah infrastruktur TI-nya kuat atau tidak di daerah-daerah itu, seperti jaringan internet. Kemudian tingkat digitalisasi di daerah itu tinggi atau tidak. Orang kan main digital itu tinggi dulu traffic-nya, misalnya pesan kontainer sudah pakai aplikasi, kemudian beli tiket sudah pakai aplikasi,” ujarnya, Minggu (22/8).

Menurutnya, penerapan digitalisasi yang diterapkan akan mubazir jika tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai. Dia pun tidak ingin NLE akan bernasib sama seperti inaportnet yang dinilainya tidak terlalu berkembang.

Lebih jauh dijelaskan, masih banyak pelanggan yang memilih untuk menggunakan cara manual dibandingkan dengan memanfaatkan sistem layanan tunggal berbasis internet yang mengintegrasikan sistem informasi kepelabuhanan tersebut.

“Kalau di Batam (penerapan NLE) oke. Di sana ekosistem atau perilaku digitalnya sudah terbentuk. Kalau di daerah lain, misalnya Indonesia Timur perilaku digitalnya bagaimana, ini yang harus diperhatikan. Hal seperti ini yang menurut saya akan menjadi tantangan penerapan NLE,” jelasnya.

Persoalan kedua, kata dia, adalah belum adanya aplikasi besar atau superapps yang mewadahi semua layanan logistik. Apalagi, NLE saat ini baru sebatas kolaborasi digital yang memungkinkan entitas logistik terhubung dengan pemerintah dan platform logistik lainnya. Tanpa adanya superapps, pengguna akan kesulitan karena harus mengunduh banyak aplikasi, seperti aplikasi untuk pemesanan kontainer, pemesanan truk, dan sandar kapal.

“NLE ini berkali-kali dibilang ekosistem, bukan platform. Kalau ekosistem, terlalu banyak nanti aplikasi yang harus di-donwnload pemakai. Nah dua ini menurut saya tantangannya. Tingkat digitalisasi dan aplikasi super yang sudah saatnya dipikirkan,” tuturnya.

Diketahui sebelumnya, guna mempercepat implementasi Instruksi Presiden Nomor 5/2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membahas perkembangan NLE bersama berbagai kementerian dan lembaga terkait. Luhut meminta agar seluruh pihak bekerja sama memantau perkembangan NLE setiap bulannya, sehingga kendala yang ada bisa segera diperbaiki.

Luhut meminta kepada semua, untuk menargetkan 10 pelabuhan setelah Batam. Agar timetable-nya disusun dan harus lebih dicermati kendala-kendalanya, yang nantinya kata Luhut akan diselesaikan satu persatu agar semuanya bisa berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan. (red/idj)

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *