IPC di Masa Pandemi Covid-19 : Tetap Ada Peluang Selain Ancaman Krisis

  • Whatsapp

Maritim Indonesia – Ditengah pandemi Corona atau Covid-19, bisnis pergudangan (warehousing) yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia/Pelindo II (IPC) diklaim alami pertumbuhan.

Kendati begitu, BUMN tersebut mengakui bahwa dampak pandemi telah menggerus aktivitas dan produktivitas (throughput) peti kemas hingga 10,4 persen.

Read More

“Ada opportunity (peluang) selain ada ancaman saat krisis dimasa pandemi ini, salah satunya adalah bisnis warehousing,” ujar Direktur Utama PT Pelindo II/IPC Arif Suhartono, pada Selasa (23/6).

Namun, kata Arif, sekarang ini pihaknya masih mengkonsolidasikan data pertumbuhan okupansi pergudangan di pelabuhan yang dikelola, sebagai bagian dari bahan kajian untuk melihat kembali target perseroan pada tahun ini.

IPC mengumumkan throughput peti kemas periode Januari hingga Mei 2020 sebesar 2,8 juta TEUs. Penurunan throughput itu dinilai tidak sedalam sektor lainnya seperti minyak dan gas bumi, transportasi, serta pariwisata.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekspor nasional pada bulan Mei 2020 tercatat US$10,53 miliar. Angka ini turun 28,3 persen dibandingkan dengan pada Mei 2019. Sementara, nilai impor turun 42,2 persen dibandingkan dengan pada Mei tahun lalu. Nilai impor pada Mei 2020 tercatat sebesar US$8,44 miliar.

“Perlambatan aktivitas ekspor dan impor juga terjadi di hampir semua negara. China yang sempat menggeliat pada April, kembali terkoreksi pada Mei,” ucap Arif.

CFS Centre

Berdasarkan catatan redaksi, pada akhir 2017, IPC juga telah mendeklair pengoperasian fasiltas container freight station (CFS center) Pelabuhan Tanjung Priok guna mempercepat arus barang impor berstatus less than container load (LCL) dari dan ke pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

CFS center Priok merupakan area pusat konsolidasi kargo untuk barang impor berstatus LCL yang dilayani melalui pelabuhan tersebut setelah kontainer dibongkar dari kapal dari terminal peti kemas.

Melalui fasilitas tersebut, pebisnis dan pemilik barang impor LCL di Priok, dapat melakukan penerimaan dan pengeluaran barang selama 24/7 di area CFS centre.

“Intinya, kalau warehousing itu bisnisnya, sedangkan CFS center itu pola pengaturannya supaya lebih transparan, lebih teratur serta lebih terstandarkan dari segi layanan dan harga,” ucap Arif.

(ire djafar)

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *