Digitalisasi Kemaritiman : Tingkatkan Efektivitas dan Efisiensi Biaya logistik

  • Whatsapp
banner 468x60

Maritim Indonesia – Digitalisasi bidang kemaritiman dinilai akan membuka sejumlah peluang, seperti potensi peningkatan tenaga kerja hingga 2,1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025, meningkatkan efektivitas serta efisiensi biaya logistik, dan meningkatkan kelancaran arus barang.

Dengan digitalisasi itu juga bisa mewujudkan transparansi, percepatan pelayanan, penyederhanaan prosedur, keamanan dari sisi pelacakan kargo dan informasi tentang kapal, kemudahan usaha dan keuntungan bagi pelaku usaha apabila diterapkan sistem online yang terintegrasi dan deregulasi peraturan sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Read More

Hal itu dikemukakan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Rokhmin Dahuri dalam dalam webinar “Peluang dan Tantangan Digitalisasi Sektor Kelautan dan Perikanan di Masa dan Pasca Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan Myshipgo, pada Rabu (22/7).

Dia menyebutkan bahwa permasalahan digitalisasi kemaritiman termasuk sektor kelautan dan perikanan yang saat ini dihadapi antara lain berkurangnya ketergantungan terhadap SDM, tenaga kerja yang kurang terampil sehingga berdampak pada kehilangan pekerjaan.

“Penyebab lainnya, kurangnya pembangunan infrastruktur terutama dalam sektor digital, kecepatan akses internet di Indonesia yang tergolong masih rendah, dan kontribusi bisnis di sektor digital masih minim terhadap produk domestik bruto (PDB),” ucapnya.

Rokhmin mengatakan, saat ini sudah beberapa platform yang dapat mengakomodir kebutuhan digitalisasi di sektor maritim.

Pertama, vessel traffic system (VTS) yaitu sistem monitoring lalu lintas pelayaran.

Kedua, Inaportnet 2.0 serta sistem delivery online yang diharapkan dapat mengurangi antrian barang dipelabuhan, meningkatkan transparansi, dan mengurangi waktu pelayanan.

Ketiga, e-Komoditi yaitu platform untuk mengakomodir pergerakan distribusi ikan sehingga pengguna dapat melihat proses pengiriman hingga barang sampai di tujuan. Keempat, platform Laut Nusantara yang dirancang Kementerian Kelautan dan Perikanan, untuk transformasi budaya nelayan dari mencari ikan menjadi menangkap ikan dan memberikan data akurat mengenai berbagai kebutuhan nelayan selama melaut.

Sementara itu, Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi menyatakan bahwa tantangan logistik sektor perikanan pada era Revolusi Industri 4.0 yaitu masalah konektivitas antara sentra produksi/pengumpulan dan sentra distribusi/industri/konsumsi secara efisien.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur dan penyedia jasa logistik di sentra perikanan, kualitas SDM pelaku usaha perikanan, dan keterbatasan teknologi informasi untuk logistik perikanan.

Menurutnya, kebijakan digitalisasi sektor perikanan perlu dilakukan dengan pendampingan kepada nelayan dan pelaku usaha secara konsisten, sehingga tujuan digitalisasi untuk menekankan transparansi, efisiensi waktu dan biaya, serta meningkatkan nilai tambah industri perikanan nasional dapat tercapai.

Pemerintah perlu menyederhanakan birokrasi perizinan investasi, mempermudah akses pendanaan kepada nelayan yang mayoritas pengusaha mikro serta kecil dan menengah, memberdayakan koperasi, membangun infrastruktur pendukung, dan mengimplementasikan jaring pengaman sosial untuk nelayan dan pekerja sektor perikanan.

Setijadi mengatakan, Pemerintah juga perlu membantu penyerapan produk perikanan dengan memperbaiki akses pemasaran hasil produksi perikanan melalui sistem data yang terintegrasi.

“Sistem tersebut mencakup data produksi perikanan, jaringan, serta kapasitas sarana dan prasarana, sehingga dapat mendorong pertumbuhan nilai tukar nelayan di berbagai daerah,” ucapnya. (idj)

Digitalisasi Kemaritiman

Digitalisasi Kemaritiman

Kelautan dan Perikanana

SCI

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *