Begini Sosok Ideal Dirut Pelindo Bersatu Menurut Direktur Eksekutif Namarin

  • Whatsapp

Maritim Indonesia – Hanya tersisa beberapa hari lagi merger PT Pelabuhan Indonesia, lebih dikenal dengan sebutan Pelindo, akan terwujud secara formal. Direncanakan pada 1 Oktober nanti akan dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur penggabungan empat Pelindo yang selama ini beroperasi di Medan, Jakarta, Surabaya dan Makassar ke dalam satu entitas tunggal. Sebut saja namanya Pelindo Bersatu.

Selain mengatur perihal merger, seperti layaknya aturan sejenis, tentu saja ihwal yang lain tak luput dari perhatian PP dimaksud.

Read More

Apakah soal siapa yang akan menjadi direktur utama Pelindo Bersatu juga akan sekaligus ditetapkan pada saat PP dikeluarkan oleh pemerintah? Bisa ya. Bisa juga tidak. Bergantung persiapan.

Karena penetapan dirut, termasuk posisi direksi lainnya pada BUMN, kental dengan lobi-lobi politik, tentu saja persiapan itu merujuk kepada persiapan politik. Bila kesepakatan politis sudah dikunci, maka penetapan board of director Pelindo Bersatu dapat diumumkan bersamaan dengan dikeluarkannya PP. Jika tidak, akan diumumkan kemudian.

Opsi yang mana yang akan dipilih terkait penetapan BoD Pelindo Bersatu, biarkan menjadi misteri sampai masanya nanti diungkap ke publik oleh Kementerian Negara BUMN.

Mumpung masih ada kesempatan, tulisan ini mencoba menyajikan kualitas atau kriteria seperti apa yang sebaiknya melekat pada diri jajaran direksi, wabil khusus, dirut. Perlu dicatat, tulisan ini berpretensi mengusulkan satu orang pun untuk duduk di posisi dewan direksi karena penulis tidak memilik daya dan upaya untuk itu.

Pertanyaannya sekarang, kualitas/kriteria seperti apa yang perlu dimiliki oleh dirut Pelindo Bersatu?

Sebelum sampai ke sana, kita cermati hal berikut ini. Bisnis  pelabuhan adalah bidang usaha yang unik dan khusus. Ia unik karena memadukan berbagai sektor dan keahlian yang ada dan memanfaatkannya untuk mendorong peradaban. Ya, peradaban. Sejarah menceritakan kepada kita bahwa peradaban besar dunia yang ada saat ini berawal dari sebuah pemukiman yang bertempat di pinggiran sungai atau laut yang di dalamnya ada pelabuhan.

Dalam zaman modern ini, pelabuhan mendorong berkembangnya teknologi, salah satunya, automated guided vehicles (AGV) yang memudahkan proses bongkar-muat peti kemas. Pada giliran selanjutnya, teknologi itu mengangkat derajat pelabuhan yang menggunakannya ke level mega port.

Sementara itu, bisnis pelabuhan disebut khusus karena ia memiliki model yang sudah paten, tinggal di-copy-paste bagi yang ingin menjalankannya. Pikiran utama dari model ini bertumpu pada hubungan antara pemerintah dan pembangunan pelabuhan. Adapun model itu meliputi  landlord port, tool port, dan service port.

Dalam model landlord port pemerintah (bisa pusat atau daerah) berperan secara tidak langsung dalam pengembangan pelabuhan, diwakili oleh port management, port authority atau port administration. Pembangunan fisik pelabuhan dan pengoperasiannya dilakukan oleh pihak ketiga yang bekerja sama dengan otoritas kepelabuhan.

Tool port merupakan model pengelolaan pelabuhan yang port authority-nya memiliki, membangun dan mengoperasikan pelabuhan (infrastruktur dan suprastruktur) lengkap dengan pekerja yang menjalankan alat bongkar-muat.

Pihak ketiga mendapat pekerjaan bongkar-muat terbatas dari port authority maupun perusahaan pelayaran. Sedangkan service port seluruh infrastruktur, suprastruktur serta pekerja pelabuhan berada di bawah wewenang penuh otoritas kepelabuhanan, tidak ada pihak ketiga yang dilibatkan.

Di Indonesia, model pengelolaan pelabuhannya tergolong tidak jelas. Ada yang menyebut model pengelolaan pelabuhan di Indonesia adalah gabungan landlord, tool port, dan service port. Sepertinya hal ini disebabkan oleh tidak adanya ketiga konsepsi tersebut di dalam ketentuan umum dan penjelasan UU No. 17/2008 tentang Pelayaran. Aturan ini hanya memuat tentang hirarki/tatanan pelabuhan nasional yang terdiri dari pelabuhan utama, pelabuhan pengumpul dan pelabuhan pengumpan.

Tentu saja calon dirut Pelindo Bersatu tidak perlu hafal semua konsepsi di muka. Bagi kandidat yang selama ini sudah berkarir di BUMN tersebut pengetahuan ini sudah pasti di luar kepala.

Yang diperlukan oleh dirut Pelindo Bersatu adalah kemampuan memahami isu-isu strategis kepelabuhanan. Ini kriteria pertama. Isu strategis ya, bukan melulu teknis membangun pelabuhan.

Kriteria kedua, sang kandidat harus mampu menguasa segala macam teknik menggali dana (sebut saja financial engineering) dari berbagai sumber. Kemampuan ini amat sangat dibutuhkan karena Pelindo Bersatu amat sangat diharapkan untuk bisa bertempur di kancah global pascamerger. Satu tarikan nafas dengan kriteria ini adalah aksesibilitas yang bersangkutan ke komunitas keuangan internasional

Kriteria ketiga, dirut Pelindo Bersatu haruslah seorang komunikator yang baik. Kepiawaian ini diperlukan untuk menavigasi proses komunikasi yang tiba-tiba menjadi begitu masif dengan penggabungan empat Pelindo.

Ada ribuan karyawan yang perlu diatur kembali assignment-nya, atau barangkali bakal ada yang terpental. Ini semua memerlukan komunikasi agar tidak terjadi riak besar yang bisa menghambat kinerja Pelindo Bersatu. (red)

Direktur Eksekutif NAMARIN, Siswanto Rusdi.

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published.