APBMI DKI Jakarta Dukung dan Apresiasi Upaya OP Priok dalam Penanganan Gangguan CEISA

  • Whatsapp

Ket gbr: Juswandi Kristanto (kanan) bersama Menhub Budi Karya Sumadi.

Maritim Indonesia – Pelaku usaha bongkar muat (PBM) di pelabuhan Tanjung Priok yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) mengapresiasi upaya Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Manajemen IPC/PT Pelindo II, dan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, dalam mengatasi persoalan gangguan Layanan elektronik kepabeanan (CEISA).

Read More

Ketua DPW APBMI DKI Jakarta, Juswandi Kristanto mengemukakan, dukungan dari stakeholders terkait dan asosiasi pengguna jasa di pelabuhan Priok yang terus memberikan masukan dan solusi dalam penanganan perbaikan sistem CEISA juga patut di acungi jempol.

“PBM mengapresiasi semua pihak yang telah bahu membahu dalam mencari solusi tersebut, sehingga saat ini CEISA sudah kembali normal,” ujar Juswandi pada Sabtu (24/7).

Dia mengatakan, pada Jumat (23/7), Kantor OP Tanjung Priok juga telah menggelar zoom meeting, bersama komunitas Kepelabuhanan Tanjung Priok.

Zoom meeting itu membahas terkait Mekanisme Keringanan Biaya Storage Dampak Gangguan CEISA, yang dipimpin Kepala OP Tanjung Priok Capt. Wisnu Handoko, guna menemukan solusi, sekaligus mengevaluasi adanya gangguan sistem elektronik Bea Cukai tersebut.

Hadir pada kesempatan tersebut, antara lain; Kepala KPU Bea Cukai Dwi Teguh, direktur Pelindo II Rima Novianti, Ketua DPC INSA Jaya Capt. Alimudin, Ketua ALFI Jakarta Adil Karim, ketua APBMI Jakarta Juswandi Kristanto, Ketua Bidang Logistik GINSI Erwin Taufan, Capt Rusdi Ketua DPW Indonesia Shipping Agency Association (ISAA) DKI Jakarta, serta para operator terminal petikemas di Priok.

Pada prinsipnya, semua pelaku usaha minta agar sistem CEISA tak lagi mengalami gangguan. Sebab, akibat gangguan dari sistem tersebut semua pihak dirugikan.

“Sebab biaya penumpukan merupakan beban cost terbesar yang efeknya paling besar dialami pemilik barang seperti delay delivery mengakibatkan variable cost produksi naik. Pabrik bisa stop produksi sampai harga barang bisa ikut melambung,” ujar Juswandi.

Namun, tambahnya, APBMI telah melakukan kordinasi dengan manajemen IPC dan PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) khusus solusi storage barang umum (general cargo) atau nonpetikemas. Hal ini dilakukan mengingat mayoritas perusahaan anggota APBMI DKI Jakarta yang berkegiatan di pelabuhan Priok adalah menangani general kargo ekspor impor dan kontainer domestik.

Dia mengatakan, khusus untuk general kargo, PTP akan menyiapkan persyaratan untuk dapat keringanan biaya penumpukan akibat sistem CEISA  bermasalah dari tanggal 8 Juli s/d 21 Juli 2021.

“Sambil menunggu informasi dari PTP untuk keringanan biaya tersebut diharapkan Pemilik barang agar mengumpulkan dokumen, kronologis keterlambatan di Bea Cukai saat terjadi gangguan sistem itu,” tuturnya.

Juswandi mengungkapkan asosiasinya-pun banyak menerima keluhan dari perusahaan bongkar muat (PBM) maupun eksportir dan importir kargo umum/breakbulk di Pelabuhan Priok, akibat gangguan Sistem Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) Bea dan Cukai Kemenkeu itu.

Namun, Juswandi menilai pihak PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) -anak usaha IPC/Pelindo II, telah cukup reaktif dalam merespon keluhan dan persoalan para pemilik barang atau Consignee di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

“Setelah melalui komunikasi dengan pelaku usaha dan berbagai pihak terkait pihak PTP cabang Tanjung Priok dapat memahami bahwa kondisi ini semua bukan kelalaian dari pihak importir atau Consignee,” ucapnya.

Juswandi menegaskan, pihaknya juga mengapresiasi langkah manajemen IPC/Pelindo II yang telah memberikan keringanan biaya storage peti kemas ekspor impor di pelabuhan Priok selama terjadi gangguan sistem CEISA.

Responsif PTP

APBMI DKI Jakarta juga mengapresiasi langkah PTP cabang Tanjung Priok yang berkomitmen supaya tidak muncul biaya tinggi logistik bagi customernya atas kondisi itu. Apalagi saat ini kondisi usaha dan perekonomian juga belum stabil akibat Pandemi Covid-19.

Sementara itu, saat zoom meeting mencari solusi gangguan CEISA pada Jumat (23/7) Kepala KPU Bea Cukai Tanjung Priok Dwi Teguh mengungkapkan bahwa instansinya sudah membuka layanan manual untuk mengatasi adanya gangguan sistem ini.

Berdasarkan data yang ada menyebutkan pada tanggal 19 Juli dokumen impor masuk 8556, ekspor 3622 dokumen, lalu pada 22 Juli tercatat 3867 dokumen impor dan 3022 ekspor.

Sementara itu, capt. Wisnu Handoko mengungkapkan bahwa langkah antisipasi untuk masalah ini antara lain, melayani jadwal kedatangan setiap kapal, mulai dari kapal sandar di demaga sesuai dengan window yang telah disepakati sampai dengan pelayanan bongkar muat selesai dan kapal meninggalkan pelabuhan.

Selain itu, mengoptimalkan penggunaan fasilitas peralatan bongkar muat, optimalisasi penggunaan lapangan penumpukan lini 1 dan lini 2.

Kemudian, selalu berkoordinasi dengan pihak Kantor Bea Cukai dalam rangka melakukan normalisasi layanan inspeksi di seal point, pindah lokasi penumpukan (PLP/Over Brengen), Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) dengan menambah jalur pemeriksaan customs dan penambahan petugas.

Memberikan keringanan atas biaya yang timbul kepada pengguna jasa yang mengalami keterlambatan pengeluaran barang akibat dampak perbaikan CEISA.

Hal lainnya adalah, melakukan sosialisasi terkait langkah-langkah antisipasi sehingga memberikan rasa kenyamanan dan optimisme kepada pengguna jasa.

Serta, melakukan komunikasi dan koordinasi secara intensif dengan Kantor Bea Cukai, Kantor Otoritas Pelabuhan Utama, Kantor Kesyahbandaran Utama, Pelindo II Cabang Tanjung Priok terkait untuk perkembangan di lapangan, terutama jika terjadi peningkatan siginifikan prosentase YOR, sehingga dapat diambil langkah bersama secara cepat dan terukur.(red)

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published.