60% Trucking di Priok Stop Beroperasi, 30% Pekerja PBM di PHK

  • Whatsapp

Maritim Indonesia – Kegiatan bisnis logistik dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok semakin merosot menyusul anjloknya aktivitas perdagangan ekspor impor lantaran Pandemi Covid-19.

Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusah Truk Indonesia (Aptrindo) Dharmawan Witanto mengatakan, hingga memasuki kwartal ke 3 tahun ini belum terlihat tanda-tanda pulihnya kegiatan bisnis logistik melalui pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Read More

“Bahkan truk yang terpaksa parkir di garasi karena tidak ada order pengangkutan sudah lebih dari 60%. Padahal ini sudah masuk September (kwartal ke 3) tahun ini. Yang kami (pengusaha) rasakan belum ada sinyal kondisi membaik,” ujarnya, Rabu (2/9).

Kendati begitu, ungkapnya, belum terpikirkan oleh pengusaha trucking untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan karena hal itu merupakan opsi terakhir kalau kondisi perekonomian tak kunjung membaik hingga tahun depan.

“Kalau PHK di usaha angkutan trucking belum terjadi, meskipun income sudah terus merosot akibat Pandemi saat ini,” paparnya.

Hal senada juga dikemukakan salah seorang pebisnis perusahaan bongkar muat (PBM) di pelabuhan Tanjung Priok.

“Muatan yang di bongkar muat dari dan ke kapal terus mengalami penurunan volume dari biasanya. Untuk bisa bertahan operasional kantor dan menggaji karyawan yang tersisa saja saat ini sudah Alhamdulillah,” ujar salah satu sumber di pelabuhan Priok.

Bahkan, kata dia, sejumlah PBM di Pelabuhan Tanjung Priok juga telah melakukan PHK terhadap beberapa karyawannya.

“Rata-rata sudah 30 persenan karyawan terpaksa di PHK saat ini,” papar pimpinan di perusahaan PBM itu.

Sebelumnya, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II/ IPC juga mengumumkan penurunan arus peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok.

BUMN itu merilis bahwa arus peti kemas sepanjang Januari hingga Juli 2020 melalui Pelabuhan Tanjung Priok mencapai 3,48 juta twentyfoot equivalent units (TEUs) atau merosot 9,54% dibandingkan periode sama tahun 2019 yang tercatat 3,85 juta TEUs.

Merosotnya arus peti kemas selama tujuh bulan pertama tahun 2020 itu disebabkan melesunya kegiatan perdagangan global imbas Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini.

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC, Arif Suhartono, mengatakan
penurunan trafik peti kemas di masa pandemi memang masih terasa, namun sebagai fasilitator perdagangan pihaknya kami siap menjaga kelancaran arus ekspor impor nasional.

“Aktivitas di pelabuhan sangat dipengaruhi oleh aktivitas perekonomian Indonesia seperti kegiatan ekspor impor,” ucapnya.(idj)

 

 

 

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published.